
Payakumbuh – Ramadhan di Nagori Tiaka selalu punya cerita yang khas. Bukan hanya tentang ibadah, tapi juga tentang tradisi yang mengikat erat hubungan keluarga dan masyarakat. Di nagori ini, masih terjaga adat Maanta Ikan dan Maanta Pabukoan, dua tradisi yang menjadi simbol kasih sayang dan silaturahmi.
Tradisi dimulai dengan Maanta Ikan, ketika keluarga laki-laki yang baru menikah mengantarkan ikan kalai (gurame) ke rumah menantu perempuan menjelang Ramadhan. Ikan itu bukan sekadar santapan, melainkan wujud do’a agar ibadah puasa berlangsung penuh berkah dan kebersamaan semakin terjalin erat.
Kemudian, memasuki pertengahan Ramadhan, hadir Tradisi Maanta Pabukoan. Sore hari menjelang berbuka, pihak menantu perempuan datang ke rumah mertua dengan pakaian adat: baju kuruang dan tikuluak kompong. Mereka membawa dulang berisi hidangan berbuka—mulai dari nasi, sampodeh dagiang, semur ayam, sambal goreng, pangek masin ikan kali, pergedel, dan selada timun hingga aneka kue tradisional seperti katun, sarikayo, kolak dalimo, serabi, onde-onde, bubua cande, kolak pisang batu, serta minuman sirup.
Setibanya di rumah mertua, suasana langsung dipenuhi kehangatan. Hidangan itu disantap bersama, bukan hanya oleh keluarga inti, tetapi juga bersama mamak, bako, dan tetangga yang diundang. Dari satu dulang/talam, tumbuhlah rasa kebersamaan yang menyatukan.
Bagi masyarakat Nagori Tiaka, tradisi ini bukan hanya soal makanan. Maanta Pabukoan adalah warisan budaya yang mengajarkan pentingnya silaturahmi, rasa hormat, dan syukur. Ia juga menjadi sarana untuk memperkenalkan makanan khas nagori kepada generasi muda, agar tetap dikenal dan dilestarikan.
Di setiap Ramadhan, Maanta Pabukoan terus hidup, mengajarkan bahwa adat dan iman berjalan seiring—menyatukan keluarga, masyarakat, dan nilai-nilai luhur dalam satu kebersamaan. (MC_pyktimur)
0 Komentar